Selasa, 28 Februari 2012

DIKSAR : The most special experience



Gilaa! Gila! Satu kata itu mungkin yang paling ingin aku ucapin setelah mengalami diksar mapadoks ke-24. Hahaha, sumpah gila. Aku pengen banget share semua pengalamannya ke dalam catatan tahu petis ini, namun kayaknya kalo jadi sebuah buku lebih asik Ya? Mungkin aku bakal nulis buku tentang 7 hari diksar mapadoks yang sumpah GILA!!
                Hmm.. di tulisan ini aku mau berbagi perasaan aja deh, jadi setelah aku melewati diksar jadi ada rasa bangga di diriku (but, semoga bukan sombong, amiin). Ya, mungkin emang agak rancu ya, namun emang begini. Sumpah aku nggak nyesel sama sekali ikut diksar ini, mengesankan sekaligus bangga!
                Hmm, daripada kalian penasaran ada apa aja diksar, aku ceritain sedikit deh. Kalian pembaca pernah turun jurang 50 meter? Pernah makan cacing idup-idup untuk bertahan hidup di hutan? Pernah berjalan di jalan setapak yang kanan-kiri jurang? Lalu sampai di sebuah titik ketinggian yang sumpah keren!
                Walaupun 7 hari sangat melelahkan, aku sendiri admin tahupetis, penulis buku (yang gak pernah terbit, hehe) dan pemimpi sekaligus peramal, sangat bersyukur terpilih mengikuti diksar mapadoks -24 dan akhirnya menjadi sejawat mapadoks! Alhamdulillah..
                Berdoalah semoga aku menulisnya dalam buku.. Agar kalian semua bisa mencicipi sejengkal surga yang telah kulewati & tentu saja ikut bersamaku di diksar mapadoks ke- 25 dst.

Senin, 20 Februari 2012

Tahu Petis: Riyan



Tinggal beberapa menit lagi menjelang tanggal 21 Februari 2012. Yup, jam udah nunjukin pukul 11 lebih 55.. Ya segitulah. Ada apa dengan 21 Februari? Ini menurutku hari yang bakal bersejarah (lagi) dalam hidupku. Memangnya ada apa?
            Diksar! Ya, diksar mapadoks. Pendidikan dasarnya untuk anak-anak yang (ngakunya) pecinta alam. Sebelumnya, diksar ini sudah menjadi target secara pribadiku di tahun 2012, dan hanya tinggal menghitung jam, beberapa jam lagi..
             Mungkin sebagian orang menganggap aku terlalu heboh atau bahasa kerennya “lebay”, yup benar. lebay! Karena hanya sekedar mendaki gunung seminggu dan tidur di alam liar aja harus di posting atau ditulis! Biasa aja ah! Jadi orang itu jangan terlalu berlebihan! Banyak omong. Atau apalah biasa yang sering dikatakan..
              Ya, sebenarnya nggak ada komen dariku ke pandangan tersebut, karena seorang memiliki pandangan tersendiri. Aku sendiri tak mengerti definisi-definisi ‘berlebihan’ karena memang berbeda tiap orang. Dan sebenarnya aku ini berbeda..
            Aku selalu menganggap ‘berlebihan’ atau ‘lebih’ di setiap jengkal detik hidup yang bakal ku jalani. Walaupun itu sekecil apapun, bahkan minum kopi harga seribuan. Yang namanya ‘riyan’ bakal anggep itu ‘lebih’ atau bahasaku ‘spesial’. Hmm.. Spesial di sini bukan berarti perfect, kalau menurutku spesial berarti menghargai dengan caraku sendiri.
          Jadi inilah caraku menghargai tiap takdir yang memang telah terjadi, dan setiap orang berhak mengartikannya apa.. Bagiku, its me cuy! Penulis geje. Hahaha.. Mari bersulang
                Nb; Berharaplah aku membawa sejuta kisah sepulang diksar :D

Selasa, 07 Februari 2012

Tahu Petis: Jadian!


                
 Sebenernya ini kejadian udah tempo hari, tapi varu aku posting sekarang. Ya, menurutku kurang afdol saja kalau aku posting langsung, kan biar beritanya jadi “wah” gitu. Meskipun nggak penting juga, but keep posting aja.
                Ni berawal siang hari, waktu itu aku lagi nyari-nyari gitas akustik. Nah, buat apa aku nyari gitar segala? Tau sendiri kan aku dulunya suka nge-band so dikit-dkit masih bisa gitaran walopun bertahun tak jumpa dengan gitar. Bener, gitar ini jadi salah satu instrumen untuk ngejalanin plan B! Hehe, alias sama kayak judul di atas.
                Ceritanya abis nyari gitar kemana-mana, aku akhirnya dapet. Emang bukan gitar sendiri seh, tapi lumayan keren untuk nembak cewek. Lalu aku hubungi si gadis rahasia ini lewat ponsel. Dia kasih lokasi dia. Aku lalu bergegas menuju tempat yang dia maksud.
                Sampai di tempat itu, dia lagi duduk-duduk entah nunggu apaan. Yang pasti tempat makan, dia lagi mandang ke arah jalan. Aku ngumpet-ngumpet dari arah samping (biar ndak ketahuan), awal rencana seh aku mau pake gaya sok blagu jadi pengamen yang nyanyi lagu cinta, hehe.
                Mungkin karena aku emang nekat kali, Ya! Aku langsung jalan dan berdiri tepat di hadapannya, dan aku langsung nyanyi pake suara sok-sok merdu. Lagunya “kau cantik hari ini” miliknya lobow. Di tengah-tengah lagu aku berhenti nyanyi dan langsung ngomong, “Mau gak jadi pacarku?”, eh orang-orang pada denger terus ngeliatin aku sama dia. Dia Cuma senyum-senyum lalu ngangguk, “Iya.”
                Hahahahaha... Akhirnya setelah menunggu sekian lama dari menjadi pemuja rahasia dan akhirnya sekarang.. Nggak kebayang! Kayak terbang ke langit ke tujuh. Mungkin iklannya fanta kalah, kalau fanta naik paus akrobatis, aku naik gajah akrobatis deh!
                Tiba-tiba..
“Banguun!”
                “Oaaa...”  Ha? Kenapa? Wah ternyata semua ini hanya mimpi! Hehe..

Kamis, 02 Februari 2012

Tahu petis: Lucky Moment


                Iseng-iseng baca majalah, ada satu halaman khusus yang ngebahas tentang “lucky moment”. Di majalah itu, ada kuesioner sederhana untuk para remaja tentang lucky moment mereka. Ada yang nulis lucky moment waktu selamat dari kecelakaan, dapet makan gratis, dapet pacar, dan lain-lain.
                Namun dari semua pendapat mereka, ada satu pendapat yang paling aku sukai.
                “Bagiku setiap hari itu lucky moment.” Pendapat seorang pemuda, dari cara menjawab dan sekilas profilnya, aku tahu kalo dia punya jiwa seperti saya. Positif thinker
                Aku emang sependapat sama itu orang, bahwa tiap hari itu lucky. Ini yang selalu aku tanamkan di tiap pagi sebelum menjalani aktivitas, bahkan di saat tersulit sekalipun aku selalu berpikir ini adalah lucky momenku.
                Contohnya aja, kejadian minggu ini. Kejadian yang membuat miris sebagian besar temenku di FK dan aku sendiri juga bingung kenapa bisa coba ini keadaan dateng ke aku. Ini berawal ketika aku dapet nilai A untuk mata kuliah agama..
                “Njung, kamu udah ujian akhir agama?” Waktu itu aku lagi diskusi sama sohib setia, Tunjung. Oh, iya tentang si Tunjung belum aku bahas detail, Ya? Kapan-kapan aku bahas.
                “Udahlah, emang kenapa? Aku selalu ngikutin keadaan.” Nah sekilas aja, Tunjung ini orangnya selalu ‘terpaku’ pada aturan dan pasti mengikuti alur, cenderung monoton
                “Aku belum ujian, kira-kira gimana, Ya?”
                “Cepet di urus, ntar nilaimu dapet D! Kalo kamu dapet D, kamu bakal ulang modul dan bayar lagi! Eh, kemaren waktu ujian kamu kemana?” Tanya dia heran
                Nah, karena Tunjung nanya kayak gitu, aku jelasin bahwa aku nggak ikut ujian karena malem harinya & pagi harinya aku enggak belajar. Bahkan aku baru tahu ada ujian pagi hari dapet SMS dari temen.
                “Daripada aku nggak bisa ngerjain, mending aku nggak masuk sekalian, Njung! Cukup waras, Kan?” Hehe
                Kira-kira seperti itu, diskusi aku & Tunjung. Lebih tepat antara si pematuh aturan dan si tidak taat aturan. Lintang & Mahar, Ikal & Arai, Tunjung & aku
                Selang hari berganti, pasti kalian tahu apa yang aku lakuin. Aku ikut ujian susulan sesuai jadwal dan berhasil mengerjakan semua soal tanpa terkecuali! Dan si Dosen memujiku dengan kalimat, “Selamat anda tertipu, saya itu Riyan, mana mungkin se-rajin itu sampai mengikuti susulan! hehe” .
                Emang dasar diriku yang ceroboh ini, sampai lupa kalau aku belum ujian! Dan hari pengumuman nilai itu pun datang. Di saat semua temen FK menanti kepastian nilai, aku malah enggak tahu hari itu pengumuman dan di tempel dimana ini nilai, hehe
                “Yan, nilai akhirmu dapet A!”
                Aku bingung sama apa yang diomongin temenku, ini bercanda apa gimana, orang aku aja nggak ikut ujian waktu itu plus aku nggak ngerjain tugas makalah syarat ujian apalagi aku kan di cap sering telat sama dosen!
                “Kamu bohong, Kan? Aku mau daftar remidi, kok.”
                “Aku yang lihat nilaimu, aku aja AB.”
                Ndak perlu lah aku tulis percakapan dengan temenku ini, karena isinya Cuma dua kalimat sakti, “Yang bener?” dan satu lagi “Ya!”
                Memang aneh, aku sendiri merasa ini kurang adil, Namun gimana adilnya coba? Masih mending kalau aku dapet nilai C, nah ini nggak ikut ujian bisa dapet A. Dan jika semua temanku bertanya apa rahasianya, selalu aku jawab “banyakin aja sodakoh! Biar dapet lucky moment tiap hari!” Hehe..
                Nggak percaya? Silahkan coba

Rabu, 01 Februari 2012

Tahu petis; Jangan percaya sama Dokter


Kalo ngebaca judul tulisan gue di atas, emang sih terlalu subjektif. Banyak dari kalian pasti berpikir ngapain coba aku ngasih judul diskriminatif? Tenang, tenang.. Aku enggak mau mempengaruhi kalian biar nggak percaya dokter, itu salah besar! Hehe.. Ingat istilah “don’t judge the book by the cover?”
                Kalo aku sih jujur nggak setuju sama istilah itu. Bagaimanapun cover itu nomor satu, banyak buku jelek yang ke  jual gara-gara covernya bagus. Right? So, aku buat judul yang aneh biar kalian ketipu dan jika kalian membaca sampai di sini, SELAMAT ANDA TERTIPU, hehe
                Nah, berkaitan dengan judul di atas ada satu pengalaman ceroboh gue waktu SMA. Sebenernya aku enggak mau nulis tentang pengalaman ini karena aku sangat malu dengan yang ini! But, untuk pembelajaran sekalian pembaca tahupetis nggak apa lah.
                Ini bermula ketika gue kena penyakit yang aku sendiri tak ingin membahasnya lagi, sedikit ilfil jika mengingatnya. Yup, ini penyakit kulit yang ditularkan oleh kakakku karena aku pake handuknya, alias PANU! Hehe, Jangan ngakak!
                Nah, karena Mama pengin serangan panu ini segera lenyap, beliau nyuruh aku biar pergi ke dokter aja 
                “Yan, udah kamu ke dokter aja. Ntar sore mama anter! Ke dokter spesialis kulit dekat perempatan situ. Itu pinter dokternya.” Kata beliau sambil ngolesin obat panu di punggungku.
                “Ah, buat apa, Ma? Cuma kayak gini doing, Kok!”
                “Bukan gitu, masalahnya kulitmu item, jadi kalo ada panunya kelihatan!”
                Memang dari dulu aku gak percaya yang namanya dokter. Apalagi kalau hanya terkena penyakit kecil, aku lebih percaya pada apoteker. Secara logis aku berpikir, “Kan apoteker lebih tahu jenis-jenis obat dan gunanya? Terus dokter ngapain?” Itu pendapatku dulu sebelum jadi calon dokter
                Ini didukung pengalaman waktu adik lagi sakit panas, waktu itu Mama Tanya ke saudara yang jga dokter. Dan apakah kalian tahu apa obat yang dianjurkan dokter itu? Hanya parasetamol. Aku yang masih SMA juga bisa kalo Cuma ngomong, “kasih parasetamol aja!”
                Lalu, karena aku percaya apoteker, aku mau coba nih, BEROBAT KE APOTEKER, hehe. Mungkin aja jadi inovasi terbaru di bidang kesehatan
                “Mbak, obat buat “tiiit” apa?” Tanyaku di apotek deket rumah
                “Oh, mau yang oles apa minum?”Kata mbak apoteker. (Aku heran, kenapa apoteker di apotek kebanyakan cewek, Ya?)
                “Dua-duanya aja, biar langsung ces pleng!”
                “Oh, ini obatnya gini bla bla bla..”  Si Mbak tadi jelasin ke aku dengan rinci, dia ngasih berapa kali aku harus minum, dan lain-lain. Sampai di sini aku mikir, “Bener perkiraanku, apoteker itu sama aja dokter. Ntar aku pamerin ke Mama!”
                Sepulang dari rumah, aku jelasin ke Mama, tentang kelebihan berobat ke apoteker. Dan aku tunjukin sebungkus antibiotic hasil berobatku ke apoteker. Oh, iya satu kelebihan apoteker lagi, dia bisa member obat tanpa menginterogasi dan mengecheck penyakit pasien.
                “Jangan sembarangan minum antibiotic, Yan! Harus dengan resep dokter” Kata mama ngingetin
                “Ah, tenang aja, Ma..” Aku dengan santai menepis semua keraguan mama.
                Dan setelah itu aku minum itu antibiotic. Awalnya aku minum teratur, sehari sekali. Namun, di tengah jalan karena aku males & ngerasa udah mulai baikkan, aku bolong-bolong minum si antibiotic.
                “Bener, kan Ma? Apa kata Riyan..” Aku nunjukin hasil berobat ke apoteker.
                Mama hanya tersenyum mendengar anaknya bahagia.
                …
                Sekarang setelah aku masuk Fakultas Kedokteran & mendalami tentang segala penyakit serta ANTIBIOTIK yang dulu pernah gue minum sembarangan itu..
                “Dek, minum antibiotic itu harus tepat! Harus teratur dan dengan resep dokter, jika tidak mikroorganisme yang menyerang tubuh bakal resisten atau kebal terhadap antibiotic golongan yang diminum dan golongan dibawahnya.” Penjelasan dosen pakar antibiotic di kuliahku.
                “Artinya? Dulu aku minum antibiotic sembarangan, karena aku nggak percaya dokter. Secara teori, mikroorganime dan segala bakteri tubuhku sudah kebal terhadap antibiotic  golongan yang dulu aku minum. Padahal waktu itu aku minum antibiotic golongan tinggi!” Shocked
                Namun, jangan panggil aku Riyan kalau aku takluk dengan teori itu. Bagiku tubuhku resisten terhadap segala bakteri, dan kebal, hehe.
                Mekanisme tubuh itu hanya dokter yang lebih tahu dibanding tenaga kesehatan lainnya, apoteker contohnya. Dan sebaiknya jangan menganggap remeh obat-obatan yang akan masuk ke tubuh, karena mekanisme tubuh itu rumit, tidak seperti yang aku bayangin waktu SMA.
               Dan saranku, jangan percaya dokter kalo pengen bakteri di tubuh kebal sama antibiotik dan bakal menggerogoti tubuh sampai habis tanpa ada obat (antibiotik) buat bakteri tadi.

 Aku tahu itu setelah aku masuk dunia kedokteran..