Tampilkan postingan dengan label SMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

Tahu petis; Jangan percaya sama Dokter


Kalo ngebaca judul tulisan gue di atas, emang sih terlalu subjektif. Banyak dari kalian pasti berpikir ngapain coba aku ngasih judul diskriminatif? Tenang, tenang.. Aku enggak mau mempengaruhi kalian biar nggak percaya dokter, itu salah besar! Hehe.. Ingat istilah “don’t judge the book by the cover?”
                Kalo aku sih jujur nggak setuju sama istilah itu. Bagaimanapun cover itu nomor satu, banyak buku jelek yang ke  jual gara-gara covernya bagus. Right? So, aku buat judul yang aneh biar kalian ketipu dan jika kalian membaca sampai di sini, SELAMAT ANDA TERTIPU, hehe
                Nah, berkaitan dengan judul di atas ada satu pengalaman ceroboh gue waktu SMA. Sebenernya aku enggak mau nulis tentang pengalaman ini karena aku sangat malu dengan yang ini! But, untuk pembelajaran sekalian pembaca tahupetis nggak apa lah.
                Ini bermula ketika gue kena penyakit yang aku sendiri tak ingin membahasnya lagi, sedikit ilfil jika mengingatnya. Yup, ini penyakit kulit yang ditularkan oleh kakakku karena aku pake handuknya, alias PANU! Hehe, Jangan ngakak!
                Nah, karena Mama pengin serangan panu ini segera lenyap, beliau nyuruh aku biar pergi ke dokter aja 
                “Yan, udah kamu ke dokter aja. Ntar sore mama anter! Ke dokter spesialis kulit dekat perempatan situ. Itu pinter dokternya.” Kata beliau sambil ngolesin obat panu di punggungku.
                “Ah, buat apa, Ma? Cuma kayak gini doing, Kok!”
                “Bukan gitu, masalahnya kulitmu item, jadi kalo ada panunya kelihatan!”
                Memang dari dulu aku gak percaya yang namanya dokter. Apalagi kalau hanya terkena penyakit kecil, aku lebih percaya pada apoteker. Secara logis aku berpikir, “Kan apoteker lebih tahu jenis-jenis obat dan gunanya? Terus dokter ngapain?” Itu pendapatku dulu sebelum jadi calon dokter
                Ini didukung pengalaman waktu adik lagi sakit panas, waktu itu Mama Tanya ke saudara yang jga dokter. Dan apakah kalian tahu apa obat yang dianjurkan dokter itu? Hanya parasetamol. Aku yang masih SMA juga bisa kalo Cuma ngomong, “kasih parasetamol aja!”
                Lalu, karena aku percaya apoteker, aku mau coba nih, BEROBAT KE APOTEKER, hehe. Mungkin aja jadi inovasi terbaru di bidang kesehatan
                “Mbak, obat buat “tiiit” apa?” Tanyaku di apotek deket rumah
                “Oh, mau yang oles apa minum?”Kata mbak apoteker. (Aku heran, kenapa apoteker di apotek kebanyakan cewek, Ya?)
                “Dua-duanya aja, biar langsung ces pleng!”
                “Oh, ini obatnya gini bla bla bla..”  Si Mbak tadi jelasin ke aku dengan rinci, dia ngasih berapa kali aku harus minum, dan lain-lain. Sampai di sini aku mikir, “Bener perkiraanku, apoteker itu sama aja dokter. Ntar aku pamerin ke Mama!”
                Sepulang dari rumah, aku jelasin ke Mama, tentang kelebihan berobat ke apoteker. Dan aku tunjukin sebungkus antibiotic hasil berobatku ke apoteker. Oh, iya satu kelebihan apoteker lagi, dia bisa member obat tanpa menginterogasi dan mengecheck penyakit pasien.
                “Jangan sembarangan minum antibiotic, Yan! Harus dengan resep dokter” Kata mama ngingetin
                “Ah, tenang aja, Ma..” Aku dengan santai menepis semua keraguan mama.
                Dan setelah itu aku minum itu antibiotic. Awalnya aku minum teratur, sehari sekali. Namun, di tengah jalan karena aku males & ngerasa udah mulai baikkan, aku bolong-bolong minum si antibiotic.
                “Bener, kan Ma? Apa kata Riyan..” Aku nunjukin hasil berobat ke apoteker.
                Mama hanya tersenyum mendengar anaknya bahagia.
                …
                Sekarang setelah aku masuk Fakultas Kedokteran & mendalami tentang segala penyakit serta ANTIBIOTIK yang dulu pernah gue minum sembarangan itu..
                “Dek, minum antibiotic itu harus tepat! Harus teratur dan dengan resep dokter, jika tidak mikroorganisme yang menyerang tubuh bakal resisten atau kebal terhadap antibiotic golongan yang diminum dan golongan dibawahnya.” Penjelasan dosen pakar antibiotic di kuliahku.
                “Artinya? Dulu aku minum antibiotic sembarangan, karena aku nggak percaya dokter. Secara teori, mikroorganime dan segala bakteri tubuhku sudah kebal terhadap antibiotic  golongan yang dulu aku minum. Padahal waktu itu aku minum antibiotic golongan tinggi!” Shocked
                Namun, jangan panggil aku Riyan kalau aku takluk dengan teori itu. Bagiku tubuhku resisten terhadap segala bakteri, dan kebal, hehe.
                Mekanisme tubuh itu hanya dokter yang lebih tahu dibanding tenaga kesehatan lainnya, apoteker contohnya. Dan sebaiknya jangan menganggap remeh obat-obatan yang akan masuk ke tubuh, karena mekanisme tubuh itu rumit, tidak seperti yang aku bayangin waktu SMA.
               Dan saranku, jangan percaya dokter kalo pengen bakteri di tubuh kebal sama antibiotik dan bakal menggerogoti tubuh sampai habis tanpa ada obat (antibiotik) buat bakteri tadi.

 Aku tahu itu setelah aku masuk dunia kedokteran..

Selasa, 17 Januari 2012

tahu petis: cara bolos sekola




Tahu petis: Cara bolos sekolah


                Karena bingung mau ngapain, daripada waktu luang hilang sia-sia, dengan ini aku menyatakan kemerdekaan untuk menulis. Hal-hal yang mengenai isi tulisan, akan ditulis secara absurd dan nggak jelas. Dan dalam cara penulisan yang se-enaknya. Atas nama catatantahupetis, tahu petis dot kom, hehe
                Hmm, darimana aku harus menulis?

                Lagi-lagi, edisi tahu petis kali ini akan membahas mengenai tips nyeleneh yang bakal berguna banget buat anak-anak muda. Kali ini aku bakal mengupas tuntas trik-trik untuk bolos sekolah yang bersumber dari pengalamanku yang nggak patut ditiru.
                Dahulu kala, ketika jaman SMA. Ada dua hal yang paling aku benci. Pertama adalah menunggu guru yang gak dateng-dateng, kedua adalah ngliatin guru yang nerangin sesuatu (orang” biasa menyebut “pelajaran”) dengan cara yang monotonistik. Nah, emang dasarnya aku anak yang sangat bermoral, maka aku mewakili seluruh angkatan SMA waktu ini usul, di waktu senggang istirahat.
                “Udahlah, kita bolos aja! Buat apa coba kita sekolah? Nah, nanti, Kan gurunya nggak ada. Kita cabut aja.” Ini lebih tepat dinamakan pidato, di depan pintu kelasku
                Memang di sini tempat kami sering berkunpul, di sudut lorong tepat di dean kelas. Kami satu angkatan biasa berkumpul di sini. Satu angkatan? Apa enggak terlalu banyak? Kalo kalian nanya gitu, maka aku bakal jawab, “Bahkan di kelasku Cuma ada 19 orang siswa, satu angkatan Cuma 58 anak!” Sentimentil
                Nah, sebagai sosok yang emang sinting, aku mempengaruhi setiap-tiap telinga yang nongkrong di sini... “Bagaimana? Yakinlah, nggak bakal dimarahin. Kan, kita bersama.” Ini adalah salah satu kebiasaan burukku sejak dulu, mengajak keburukan! Inget postinganku yang berjudul “Seri fakultair; gara-gara komting” ? Dicerita itu aku juga nulis kalau aku m=ngebujuk komting angkatan buat membangkang, hehe
                “Gila kamu, bagaimana jika kita diskors? Kamu mau bayarin sekolahku!"
                “Apa kamu yakin jika kita bakal diskors semua? Lalu siapa yang bakal sekolah?” Jawabku bijak, mengikuti gaya satu jarinya Pak Mario Teguh.
                “Kamu gila! Tapi ide bagus.” Sesuatu kata yang meyakinkan hampir seluruh anak, mengambil tas dan barang lain. Berkemas untuk pulang.
                Tepat, di saat bel masuk kelas mulai. Siang itu masih cukup panas untuk menyapu semangat kami cabut dari sekolah, tapi kami kan anak muda, selalu bersemangat. Ingat kata Kang Yana, “Konsep semangat, passion?” Nah, kami sebagai pemuda menerapkannya, tetap tegar buat bolos, hehe
Aku di depan memimpin para pasukan bolos ini. “Stop!”
Salah seorang temanku berkata, “Kenapa?”
“Ada kepala sekolah, tunggu dulu biar lewat..” Dan seakan-akan berpikir kami bakal ketangkep, aku yang bernama Riyan ini muncul ide.
“Lempar semua tas ke kelasnya adik kelas!” Yang namnya anak muda emang cepat, sigap, lugas. Lalu sebagian dari kami menyapa Pak kepala sekolah dengan wajah yang, SANGAT RAMAH. Baru sekali bahkan aku nyengir sambil nahan keringet! Sebagian dari kami nunduk ngumpet di balik tembok nungging-nungging kaya kepiting
“Sudah, aman.. “ Kami melanjutkan ekspedisi bolos ini. 
Sebelumnya telah ada dua rencana untuk menuntaskan kegiatan bolos ini, pertama adalah melewati pagar samping. Nah, cara ini paling banyak dipilih, karena memang tidak beresiko. 
Kedua, adalah lewat depan kantor guru. Ini cara terbodoh dan terceroboh, namun dengan tegasnya aku menegaskan, “Kita lewat depan saja, mau ada kantor guru atau apa aja, kita harus berani. Pasti bisa. ”
“Kamu gila, Ya?” Banyak temenku yang nentang dan sebagian langsung misahkabur lewat samping,
“Percaya aku..” Kataku, dan ternyata malah temenku 90 persen ngikutin cara ini! Hehe, aku jadi inget pemilihan komting, waktu itu, Kan nggak pada milih aku (baca: seri fakultair; pemilihan komting)
Dengan sisa semangat kami, di terik matahari. Kami berjalan dengan gagah berani. Membusungkan dada laksana kapiten pattimura. Tanpa keraguan dan tanpa mengendap-endap seperti tikus-tikus got, pelukisan ini lebih tepat bagi sebagian yang kabur lewat samping, pengecut
Dengan segala ketegasan, aku menyapa setiap guru yang aku jumpai. Bahkan Wakil kepala sekolah, “Assalamualaikum, Pak.” Sapaku padanya, tepat satu meter
“Lho, lho ini mau kemana?” Tanya dia , dari wajahnya keliatan banget kalo pak wakil ini heran setengah abad
“Kami mau bolos, Pak..” Kataku jujur sambil nyengir terkekeh sambil garuk-garuk kepala, & mempercepat jalan kami. 
pernah lihat lomba jalan cepat? Nah ini mirip. 
Karena kami anak muda, masih bertenaga kuda dan belum menjadi duda (hehe, peace). Tapi guruku nggak ada yang duda! Kami menang dalam kejar-kejaran konyol itu, si wakil kepala sekolah ngejar kami yang ikut-ikutan jalan cepat kayak lomba olimpiade. Dan karena di depan kami adalah satpam, bawa pentungan..
“Pak, itu anak-anak ditangkap. Suruh masuk.” Teriak pak wakil ngacungin jari
Ups, jangan takut dulu. Cerita masih berlanjut. Masih ada sisa-sisa jiwa pemberontak di dalam tubuhku, santai tapi tegas kami lewat begitu saja di depan satpam, hehe. Jadi ngakak kalo inget kejadian itu, si satpam yang ngoceh cuma lewat bagai angin aja kalimatnya
“Pak, kami permisi dulu, Ya.. Assalamualaikum.” Biar sopan kaburnya, salam dulu kami ke Pak satpam, sambil nundukin kepala
Bahkan ada satu temenku yang ambil tangan si guru buat pamit, cium kepala. GILAAA, setidaknya sopan
Starter motor, kabur dah..hehe
Di hari esoknya, entah mengapa ikut-ikutan kami para laskar bolos atau gimana aku nggak mudeng. Para guru gantian membentuk laskar guru, yang tujuannya menginterogasi kami seharian penuh. 
ada satu pernyataan menarik, “Riyan itu tidak seperti itu, dia orangnya tidak mungkin berbuat itu. Kalian saja yang keterlaluan. Riyan itu anaknya pintar, kalian jangan pengaruhi dia” Bela guruku, saat memarahi sebagian temenku. Dan aku? Hanya diam tak bersuara plus ngakak dalam hati, “Enggak tahu apa siapa Riyan”
“Maaf, pak.” Kami janji nggak bolos lagi, sejak saat itu sampai sekarang.. Bahkan sejak saat itu, aku mulai berubah. Sekarang? Mau telat kayak apa juga aku bakal masuk. Pernah kejadian telat masuk kuliah, padahal hampir selesai. Gimana ekspresi dosen? Kikuknya diriku? Besok aku ceritakan

Pesan moral:      Kalau mau bolos ajak riyan, kalua tidak jangan bolos
                                Kalau ada guru lewat, jangan lupa senyum salam sapa
                                Jangan pernah membolos lewat samping, harus lewat depan 

Jumat, 13 Januari 2012

Tahu Petis: Cara Mencontek Waktu Ujian



Tahu petis kali ini akan membahas seputar ujian. Lebih khususnya cara buat nyontek waktu ujian. Saya tulis ini bukan untuk mempengaruhi kalian para pembaca buat nyonterk, tetapi biar kalian tambah kreatif aja. Kan nggak selamanya ingatan kita kuat buat ngapalin buku seabrek banyaknya. Coba aja kalo kalian kepepet? Nah, semoga tulisan ini bermanfaat!

Lebih ringkasnya, ini adalah salah satu pengalaman hebohku waktu SMA. Emang banyak banget ya pengalamanku SMA, awalnya tulisan ini aku mau tambahin di “Hal-hal bodoh yang aku lakuin di SMA part 2” yang mau terbit bentar lagi, tapi karena temen-temen se-angkatanku besok mau ujian plus penulisan yang part 2 butuh waktu, jadi aku rasa perlu penulisan secara instan. So aku masukin ke Tahu petis. Check this out.

Catatan Tersembunyi

Ketika SMA dulu, aku paling anti kalo nyontek temen waktu ujian, apalagi nyontekin, udah aku gampar temen yang nyontek aku! Hehe, dulu tapi. Kalo masalah nyontek temen, no way dah! Kenapa? Bukannya aku sebagai manusia sombong atau gimana, tapi ini berdasar dua alasan kuat; pertama, karena dulu pernah waktu aku nyontek habis-habisan temenku waktu ujian sampe semuanya sama persis, sampe-sampe gurunya manggil aku selesai ujian.

“Kamu nggak ngerjain ujian, Ya?” Kata guruku di depan kelas.

“Ngerjain, Kok Bu, malah saya yakin banget kalo dapet nilai tertinggi.” Aku nyombongin diri watu itu, maklum aku kan nyontek temen yang katanya udah belajar mati-matian

“Kok Ibu nggak liat? Mana, Ya?” Sambil sok nyari hasil ujian Ibu Guru senyum-senyum meringis, nahan dikit pake tangannya.

“Ada kok Bu.” Jawabku sambil ngangguk kepala

“Coba kamu panggil ini anak..” Dia nunjukin sebuah nama seorang temen, secara aku nggak mau buat aib, kita panggil aja Mr. X

“Oke, bu...” Aku ngeliat sekilas kertas ujiannya. Lalu jalan ke-luar kelas, maklum semua temen udah pada ngeluyur keluar kelas, Kan habis ujian istirahat.

“Eh, tunggu dulu...” Kataku, sambil berhenti tepat di daun pintu

“Ibu, tolong lihat hasil kertasnya lagi, Bu...” Kataku penasaran

“Ini...”

Sial! Ini, Kan tulisanku. Kok, namanya Mr.X, Ya? Si Ibu senyum-senyum sendirian lagi ngeliatin ekspresi wajahku yang ketakutan plus sok blagu. Wah, emang namanya Riyan, kali Ya pinter pasang wajah blagu., sok kagak tahu! Langsung aja aku keluarin jurus aktingku..

“Oalah, ini tadi waktu pembagian kertas, aku nggak dapet, Bu, eh aku dikasih sama kertas ujian Mr. X, aku lupa ganti namanya, Bu!” Kataku sambil senyum & ketawa kecil

“Mosok?” (Dalam bahasa Indonesia “Masak, sih?”) Si Ibu senyum, “Jangan bohong, Ya, ada yang lebih tahu di atas, Nak.”

Si Ibu membelai lembut rambutku, dan tersenyum. “Ibu, tau kamu nyontek, Le. Daritadi ibu juga ngawasin kamu. Kamu itu anaknya pinter, Le. Kreatif! Nah, tapi kreatifmu jangan dibuat dalam urusan nyontek! Kamu rugi, coba kamu suatu saat nulis novel, Kan malah lebih bagus?”

Perkataan yang paling aku ingat!

Alasan kedua aku nggak mau nyontek adalah, karena pesan Mamaku yang ke-5 berbunyi, “Kalo kamu mau pinter, jangan nyontek, Ya dek. Kamu pasti bisa, walaupun gagal, Kan kamu tetep anak Mama!”

Emang perkataan Ibu itu manjur banget. Kalo kita ngikutin, jalan pasti akan mudah! Bahkan menurutku, doa atau perkataan Mama itu lebih manjur dan berkasiat daripada minta doanya sama orang ahli agama.

Nah, kok malah ngelantur, Ya tulisannya? So, back to cerita inti. Ada satu cara ampuh waktu SMA kalo aku mau nyontek. Lho? Katanya aku nggak nyontek? Ups, kalo nyontek temen aku paling anti, Ya! Tapi kalo nyontek catatan, adalah sebuah hobiku waktu SMA yang ke-3. Bahkan kalo di rata-rata udah ngelewatin jadwal mandiku tiap hari waktu SMA, (Kan waktu SMA, aku sering banget nggak mandi waktu berangkat pagi! Hehe). Tapi menjelang dewasa Alhamdulillah sekarang udah bisa mandi sendiri & nyadar pentingnya mandi.

Kembali ko topik, dulu waktu ujian udah deket. Aku punya strategi jitu buat dapetin hasil yang bagus! Ingat perkataan,”Ilmu kalo nggak dicatet bakal lupa.”? Nah, aku sebagai anak muda yang nggak bergelar “omdo” alias omong doang jadi aku laksanakan perkataan itu, hehe

Waktu itu..

“Yan, ngapain kamu?” Tanya temen SMA, kita panggil aja Edo, karena dia emang deket sama aku waktu SMA. Ntar kapan-kapan aku ceritain tentang ini orang.

“Aku lagi buat contekan, Nih!” Kataku sambil buat tulisan contekan.

“Wah, ternyata pake contekan, Ya? Bikin males tau!” Dia nuduh-nuduh pake jarinya ke aku, sambil senyum penuh makna kayak sule di OVJ

“Ssst, jangan ganggu!”

Aku lalu ngelanjutin buat catatan-catatan kecil. Ada beberapa tempat strategis yang aku emang biasa kasih catetan, pertama adalah bagian tangan. Ini karena dulu SMA ku modelnya pake lengan panjang! Yang kedua, aku tulis catetan kecil di kertas yang aku tempelin pake selotip di bagian dalem baju, hehe. Terus biar tambah mantep waktu nyontek, aku tulis di atasnya, “catatan contekan”, emang buku doang yang pake judul catatan (Catatan akhir sekolah, dll) , contekan ku juga!

Nah, setelah bel. Kami anak kelas masuk semua buat ujian.

“Siap, Ya. Ujian mulai.” Kata guruku nyuruh kami mulai ngerjain.

Emang gila otakku, dengan mudah dan hampir tanpa beban aku ngerjain ujian. Eh, nggak lupa aku pasang wajah serius & plus sok bingung waktu baca soalnya. Ini berguna banget biar si guru percaya ama aku.

“Aha, aku tahu..” Kataku sambil masang wajah seneng instan, ini berguna biar si Guru percaya sama kita kalo kita emang bisa

Ujian, Pun berakhir. Dan aku sangat yakin bakal lulus ujian tanpa remidi!

Tengah siang, kami solat berjamaah dzuhur. Tepatnya waktu aku lagi siap-siap wudhu di depan keran, aku lingkis sebagian lengan sampai bagian siku ke atas.

“Yan, tunggu dulu...” Kata seorang di belakangku, seorang bersuara besar. Kayaknya aku tahu!

“Kenapa?” Aku noleh, dan ternyata... Guruku! Kita panghil aja yang suka jaga pintu

“Ini apa?” Dia senyum-senyum ke aku pake wajah gembira, mungkin jika diibaratkan seperti film shaun the seep, penggembalanya waktu lukisannya terjual mahal!

“Hehehe, ini lukisan seni, Pak!” Kataku, nggak jadi wudhu

“Oh, seni, Ya? Jadi kamu suka seni?” Tanya dia

“Jelas dong, Pak!”

“Kalo gitu mau nggak Bapak kasih gambarin seni? Lebih bagus dari ini.” Bapak Guru nawarin,

“Mau banget, Pak!”

“Nanti setelah solat, dateng ke kantor, bapak mau lukis wajahmu!” Lalu Bapak langsung wudhu di sebelahku yang kebetulan kosong. Temenku pada ngomong satu kata bersama, “Eiiiaaaaaaaaaaaaaa....” Ketawa ngakak-ngakak.

Nah, setelah mendapat nasihat dari Pak Guru, aku mulai nyesel kalo nyontek itu nggak baik buat kesehatan. Mungkin hari ini aku nggak jadi dilukis, Kan bapaknya baik! Coba aja kalo wajahku dilukis? Masih mending kalo itu gambaran lukisan, gimana kalo yang ngelukis guru fisika? Atau kimia? Atau matematika? Bisa-bisa kepinteran wajahku penuh rumus

Nah, usai sekolah aku langsung pulang. Buka baju seragam & naruh di tempat cucian. Dan di dunia yang penuh Kebetulan, kebeneran juga waktu itu Mama lagi di sebelahku, langsung Mama ambil seragamku.

“Gimana ujiannya?” Tanya Mama, Beliau emang perhatian banget ke aku

“Alhamdulillah bisa, Ma.”

“Syukur, deh. Itu baru anak Mama.” Mama senyum

“Siapa dulu anak Mama, Riyan.”

“Kamu emang anak mama terbaik!” Katanya mamaku yang lagi ngotak-atik bajuku. Aku pergi ninggain mama ke ruang makan.

Tiba-tiba mama nyetop langkahku, “Kamu tadi yakin bisa?” Tanyanya.

“Yakin bisa, Ma. Kalo boleh beli borongan aku beli deh yakinnya jadi 200 persen!” Jawabku tegas.

“Oh, gitu. Kamu enggak lupa pesan mama, Kan?”

“Yang apa, Ma? Semua pesan mama yang jumlahnya 20-an udah aku rangkum jadi buku, masa aku lupa!” Protesku

“Inget pesen mama ke-5, nggak?”

“Jangan nyontek temen, kan? Aku nggak lakuin itu kok, Mah!” Aku lalu lanjutin makan.

“Hmm, emang anak muda kali, Ya.” Mamaku, lalu nunjukin sebuah kertas kecil bertuliskan “catatan contekan”

“Itu... Catatan ujian, Ma. Kan, katanya ilmu harus di catat.” Aku gugup, menghadapi Beliau

“Yan, yan... Cukup sekali, Ya?” Beliau lalu mengelur rambutku, tegas dan lembut. Tanpa intimidasi. Walaupun ini bukan blog lebay, aku tuliskan di sini, “seperti malaikat.”

Sedikit sekali perasaanku ingin kembali nyontek, aku tersenyum balas ke wajahnya. Masih terkenang sanjungan Mama dan manjaan mama, saat aku diceritakan akan sukses tanpa contekan!

“Maaf, Ya Ma. Cukup sekali” Tanda silang kelingking berarti janji telah terikat dari sejak itu hingga sekarang, hasilnya? Lihat sendiri ke kenyataan hidupku, semua terasa indah dan ilmu lebih bermanfaat!

Sejak saat itu, relatif dapet ranking

Relatif, nggak mudah lupa pelajaran

Lebih pinter ngitung waktu pelajaran fisika, bahkan pernah suatu ketika dapet surat rujukan dari guru ikut lomba! Alhamdulillah

+++

Pesan moral: Kalo nggak mau dapet ranking, pakailah kertas contekan

Kalo mau pinter fisika, harus pinter matematika

Kalo mau bohong jangan akting, bohonglah dengan jujur

Doa ibu, lebih manjur dari doa banyak ahli ibadah

*jangan membaca tahu petis tanpa bimbingan orang tua

** Buat temen osteon, semangat Ya! Aku yakin jiwa dan semangat kalian sekuat tulang keras. Jangan kecewakan Ari, yang waktu itu hampir pulang tapi gag jadi

Senin, 09 Januari 2012

Hal-hal Bodoh yang Aku Lakukan di SMA

Banyak orang mengatakan bahwa masa SMA adalah masaterindah. Emang bener pernyataan itu, banyak hal yang dilalui masa SMA, hal yang tak bisa dilupakan sepanjang usia. Mulai dari hal konyol, bodoh, mengesankan, keren, mengagumkan, aneh, bahkan sampai norak.
Nah, jika masa yang indah itu tidak diisi dengan hal yang mengesankan, apa jadinya hidup ini? Hehe, But sebagai generasi muda yang diprediksikan bakal membawa kemajuan bagi bangsa ini (berbagai sumber menyebut Indonesia bakal bangkit di abad 21), maka sudah seharusnya masa muda diisi dengan berbagai hal positif!
Memang penulis sendiri, khususnya saya (siapa lagi kalo buka saya, ini kan blog saya) memang belum sepatutnya mengatakan seperti itu, karena faktanya masa SMA penulis masih ditumbuhi dengan hal-hal bodoh dan konyol. Tapi sebagai pembaca yang cerdas, ambil aja hikmahnya.
1. Nerobos masuk pagar sekolah pake tangga tetangga.
Kejadian ini terjadi sewaktu kelas 3 SMA. Ketika itu, aku sudah mendapat peringatan keras dari kepala sekolah karena sudah mencapai tahap akhir terlambat sekolah.
"Kalau terlambat lagi harus siap sanksinya..."
Nah, karena aku menganut teori sebab-akibat, dan aku takut telat lagi yang ujung-ujungnya duit sangu bakal di sunat sama Mama, terpaksa dengan bisikan setan aku ambil tangga yang lagi nganggur di pinggir jalan, samping rumah tetangga sekolah.
Ketika itu aku telat bareng adikku, Reza, dia masih duduk di kelas 3 SMP. Kebetulan sekolah kami satu kompleks.
"Za, jangan lewat gerbang depan, nanti Mas telat lagi! Kan udah dipoin sama Guru BK." Aku nyetop Reza yang lagi lari kebirit-birit kayak dikejar kunti.
"Terus? Lewat mana? Mau enggak sekolah?" Kata dia berhenti, berhentinya gara-gara aku tarik bajunya.
"Ini ada tangga, kita manjat pagar samping aja!" Kataku tegas, ketegasan adalah simbol pemimpin, Kan?
"Hah?" Dia bengong.
"Udah gak usah banyak omong." Aku langsung ambil tangga 3 meteran itu, langsung aku pasang miring di pagar samping.
"Ayo kamu naik duluan..." Kataku padanya.
Ketika sampai di tengah-tengah tangga, tiba-tiba...
"Heh, ngapain kalian! Ini tangga saya! Kalian itu, pinjem nggak bilang-bilang. Ngapain lagi manjat pagar, sudah ada pintunya!" Seorang bapak-bapak nongol di samping tangga dan menggoyangkannya.
"Maaf, Pak.." Kataku termenung.. Reza turun tangga
"Maaf, maaf. Sudah sana."
Lalu dengan berlalunya kata terakhir bapak tetangga sekolah kami itu, berlalu juga kami. Berlari secepat kilat kayak ngejar orang yang lari- terbirit-birit ditakutin hantu.
2. Sekolah Pake Celana Sobek
Kata temen-temen sekolahku, aku orangnya itu sangat ceroboh, teledor,banyak ngentengin sesuatu. Walau kadang aku marah-marah sendiri waktu dikatain gitu sama temen-temen sekelas, tapi emang ada benarnya juga. Buktinya aja aku pernah ngalami kejadian yang kurang manis dan sedikit asam plus pahit. Ini bermula pagi hari yang seperti biasa, bangun telat.
Usai solat shubuh, aku emang kebiasaan tidur lagi. Kebiasaan buruk pertamaku, menurut Mama. Nah, karena saking enaknya ngresapin tidur yang kedua ini sampe-sampe kebablasan jam 6! Padahal aku harus nganter adikku yang paling kecil ke SD dulu, apalagi harus nunggu kamar mandi satu untuk 6 orang. Huft. Akhirnya dengan gaya khas film 3 idiot, aku tiruin kata-katanya, "Semua akan baik-baik saja."
Emang ampuh banget kata-kata ini, semua jadi terasa biasa. Jam menunjukan 06.30. Dengan santainya aku langsung masuk kamar mandi yang akhirnya kosong dari antrian. Ketika masuk kamar mandi, udah terbesit pikiranku untuk latihan akting buat alasan telat nanti. Kan enggak pas kalo alasannya aku bobo lagi. So what gitu..
"Bukaaaaa!" Adikku yang paling kecil langsung nggedor-gedor pintu kamar mandi. Karena pintu lupa aku kunci, langsung deh kebuka.
"Gantian, Dek!" Kataku padanya,
Oh iya nama adiikku yang paling kecil iniadalah Ratna. biasa dipanggil Nana.
"Gak mau!" Dengan santainya Si Nana langsung duduk di closet!
"Whateverlah, gak mandi gak mandi deh! Biar bau penting gak telat!" Aku marah-marah keluar kamar mandi.
Setelah keluar kamar mandi, langsung dengan cekatan aku ambil seragam dan karena lupa film 3 idiot aku jadi tergesa-gesa. Inget wajahnya guru penjaga kalau aku telat. Tidaak!
"Ayo berangkat..." Langsung aku bilang Papa buat starter mobil. Waktu itu aku masih dianter, maklum anak mami papi.
Setelah nunggu adikku siap semua, kami berangkat deh. Walaupun belom mandi, semprot dulu ah pake parfum. "Na, aku pinjem parfum kamu, Ya."
"Itu, Kan parfum cewek!"
"Biarlah, sama aja, itu kan cuma tipu-tipuan perusahaan parfum kasih tipe cowok cewek!"
Setelah perjalanan menuju sekolah..
"Assalamualaikum, Pak.." Kebiasaan sekolahku emang gini, salam.
"Tumben enggak telat, Yan?" Kata guru penjaga.
"Alhamdulillah, Pak." Senyumku sok ramah.
"Kamu pake parfum, Ya?"
"Iya, Pak."
"Kok kayak parfum Istri saya, Ya?" Wajah guru dengan gaya mbandingin.
"Masa, Pak?" Aku jawab dengan wajah inosen
"Jangan-jangan kamu pake parfum... "
Gak sempet Si Bapak ngelanjutin omongannya, aku langsung kabuuuuur!! "Yan, celanamu...!" Teriak Pak Guru, tapi karena aku emang udah jauh, Ya sudahlah tinggal aja.
Pelajaran pertama, masuk kelas seperti biasa, enggak ada yang spesial. Pelajaran pun juga biasa, gurunya juga biasa, tapi.. "Ups, celana ku sobek, aku salah ambil celana!" Celana bagian selangkangan sobek!
Emang sekarang terbukti kata temen-temenku yang memvonis secara serta merta kalo aku orangnya ceroboh!. Tapi bukan Riyan namanya kalo gak punya akal.
Karena pernah nonton film Mr. Bean, yang waktu celana dia ketuker di tempat nyuci, tau gak? Nah, aku langsung inisiatif, mempetin celana kayak ibu-ibu nahan kencing. Duduk aku mempetin paha, jalan pu juga, bahkan waktu Si Guru nyuruh aku maju ngerjain tugas.
"Yan, Ayo maju ke depan, kerjakan soal di depan!" Perintah guru fisikaku.
"Itu, Bu, Si Edo aja!" Aku nolak.
Eh, malah temen-temen yang lain pada nunduk dan Edo juga pasang wajah blagu sok kagak mudeng. "Udah cepet, Yan. Kalo enggak nilaimu Ibu pangkas."
Wah, kayaknya Si Ibu tau kalo aku dapet musibah celana sobek. Dapet bisikan darimana coba? "Iya, Bu.."
Dengan sangat terpaksa sambil nundukin wajah aku berdiri, jalan kayak Mr. Bean sambil pasang wajah orang anemia.
Sampai di depan, temenku pada ketawa ngakak-ngakak, terutama Si Edo.
"Heii, kenapa, Yan? Abis sunat,Ya?" Aku hanya diem nanggepinnya, masih takut kalau ketahuan celana sobek!
"Kenapa, Yan? Celanamu sobek, Ya?" Enggak tahu ini sumber suara darimana, yang pasti gerombolannya Si Edo tukang ngakak.
"Iya bener, Yan?" Tanya Ibu Guru.
"Engg... Anu, Bu saya kebelt pipis, boleh ke UKS dulu, Bu?" Kataku spontan.
"Lho kok di UKS?" Ibu Guru heran.
"Ke UKS mau pinjem celana, Bu." Edo langsung ngerlipin mata sambil alisnya naik-naik kayak cowok nggodain cewek lewat.
Tanpa basa-basi langsung aku lari keluar kelas, temen sekelas pada nundukin pandangan mencari sesuatu ke arah pahaku "Lari, lari dah, liat nih pahaku yang mulus!"
Lalun aku pergi ke UKS, nyari celana panjang abu-abu, emang di UKS sekolahku banyak celana bekas yang enggak dipake. Ini emang program sekolah, yang mewajibkan setiap alumni nyumbangin seragamnya usai lulus.
"Assalamualaikum, ehem-ehem, Ibu Guru biarkan saya yang menjawab soal di depan, Ibu silahkan duduk saja!" Aku datang dengan logat seperti calon presiden di TV-TV.
"Celanamu gimana, Yan?" Tanya Edo
"Maaf, saya tidak melayani pertanyaan, silahkan meninggalkan pesan setelah bunyi 'tiiiit'!"
-Continued-
Besok lagi Ya, ini perpus udah tutup nih