Tampilkan postingan dengan label fakultair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fakultair. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2012

Seri fakultair: bertahan dengan CD


“Ngga, bangun!” Bisikku padanya.

Pagi ini, hari kedua kami akan menjalani fakultair. Walaupun tidur Cuma 3 jam, kami tetep semangat juga untuk menghadapinya! Meskipun pada akhirnya kenyataan menyatakan lain, hampir saja aku ketiduran waktu sholat, mungkin ini salah satu sujud terkhusyuk, hehe

“Aku nggak nyangka, Yan.” Angga natap ke wajahku yang baru selesai Sholat Shubuh, matanya masih terlihat bekas mimi-mimpi yang belum sempurna malam ini

“Nggak nyangka apa?” Aku nggak mau kalah ngantuknya, kalo mata dia sipit, aku buat mataku tutup seluruhnya

“Dari semua temenku SMA, sampai sekarang sholatmu paling lama!” Dia senyum percaya, tapi agak dipaksa

Dalam hati aku aku mikir, “Ini orang nggak tau apa, Ya? Hampir aja ketiduran waktu sujud tadi! Untung Bu Jack datang ngetok-ngetok pintu, jadi bangun, deh.”

Setelah kami bersiap-siap pagi itu, pukul setengah tujuh kami bersiap berangkat.

“Dek, ini makan dulu. Walaupun tidur hanya tiga jam, jangan lupa makan. Ini Ibu belikan makanan plus teh anget.” Kata Bu Jack. Tiga bungkus nasi & teh anget manis, padahal kami sudah merepotkan malamnya. Memang berhati malaikat

“Terimakasih, Bu!”

Usai makan, mendekati jam tujuh pagi. Waktu itu Jack keluar kamar mandi tepat, dan ngomong ke aku, “Cepet mandi sana!”

“Nggak, ah Jack! Ntar kita telat.”

“Yang bener kamu? Ini mumpung masih kosong, Yan! Nggak apa-apa kita telat, lha gimana lagi, walaupun nggak tidur yang penting mandi.”

“Jack, udah biasa kalo aku nggak mandi. Nggak mandi biarlah, yang penting...” Aku langsung ambil parfumku, cassablanca item. “Wangi!”

“Lha kamu nggak ganti daleman?”

“Wah, kalo itu... Biar wangi juga ini aku semprot, puas!” Aku semprotin parfumnya ke arah....

Lalu kami berangkat ke kampus, dengan perasaan yang tertekan. Apalagi tugas yang akan kami hadapi? Pasti akan ada acara marah-marah-an!

Dan emang bener aja! Fakultair hari kedua bahkan lebih buruk dari yang pertama. Sampe-sampe Komdis teriak gini, “Kalian yakin kalau kalian itu keluarga? Mana buktinya? Maju sini!”

Dalam hati aku mikir, “Kenapa ini Komdis, sakit hipertensi kali, Ya?” Si Ari komting diem aja. Dia seperti pasrah, walaupun aku tahu itu adalah simbol kedewasaan dia, nggak seperti aku yang tanpa pikir panjang dengan lanytang dan penuh emosi,

“Kami keluarga!” Aku nggak mau kalah sama teriaknya Komdis, Dia adalah Mas Nunu. Komdis favoritku, gayanya seperti kutu buku kelas berat. Berkacamata agak diturunin

“Siapa kamu? Maju sini!” Matanya tetep aja sinis, malah semakin sini ngeliatin ke arah aku.

Dengan sisa kesombongan di hari pertama waktu nyalon komting aku maju, kali ini aku jalan niru gayanya Ari Komting. Tegas & tegap. Mungkin aja habis ini akau jadi komting, hehe.

“Dek, kenapa kamu yakin kalian ini keluarga?” Bisik Mas Nunu, sambil menatap sok sinis tepat ke mataku, persis banget 5 centimeter di depan mataku!

Kalau dunia boleh main hakim sendiri, udah aku tinju wajahnya sampe bengkak-bengkak, hehe (Maaf, Ya Mas Nunu, kamu adalah idolaku). Lha gimana lagi? Aku nggak salah apa-apa di tatap sinis gitu coba

Aku , Kan Riyan. Penuh ide. Pertama, aku tarik nafas pelan. Aku sempet ngelirik ke arah Ari yang diam,karena aku yang otaknya melenceng ini punya pikiran, “bangkitin semangatnya Komtingku! Lawan dong!”

“Mas, kami ini keluarga! Kami ini satu. Kami dateng ke sini bersma, dan keluar pun bersama!” Teriakku sangat lantang, sangat tegas, hehe. Sebenernya waktu itu aku berbisik nambahin pernyataanku, “Mau ada Komdis kayak Mas seribu, pun kami tetep keluarga, Mas! Bonyok-bonyok juga, Mas, tapi kami tetep satu.”

“Oh, gitu.” Kata Mas Nunu berjalan berputar-putar, aktingnya menjadi-jadi.

Aku nggak mau kalah akting, “Mungkin itu jawaban kami semua!” Aku jawab sambil keluarin jurus aktingku, untung aja dulu aku ikut kelas akting.

Aku diam, di dekati semua Komdis. Sendiri di depan. Kalo boleh jujur, Ya, aku waktu itu mulai merinding. Bayangin coba, dari semua sudut Komdis menatap tajam ke satu arah, si gila Riyan.

“Apa ini? Moto, Kok yang penting hepi-hepi!” Kata Mas Nunu. Lalu dia ketawa-ketawa sendirian nggak jelas, sambil sedikit dibuat-buat. Kalo aku boleh ngomong, dia ketawa kayak orang nggak jelas.

Habis denger ketawa anehnya dia, mungkin dia nggak lolos kelas akting! Aku langsung pura-pura menguap. Aku puas-puasin tertawa dalam dua lembar telapak tangan. Nggak kuat denger gaya ketawanya.

“Kamu, kembali sana!” Salam perpisahan darinya, yang juga menyelamatkan aku dari ganasnya Komdis lain yang waktu itu lagi jalan ndeketin aku.

“Alhamdulillah.”

Hari ini pun, kami masih menerima suara-suara marah yang lantang dan tugas yang tentunya lebih berat. “Tugas, hari ini dek bla bla bla bla, bla bla bla bla, bla bla...” Dan yang ku ingat hanya bla bla bla, perrcaya tidak waktu itu Komdis ngomong, “Di catet!”

Karena aku emang agak nggak jelas orangnya plus emang lagi males, yang aku tulis adalah “Pulang, pulang, pulang!”

Untung aja, waktu itu catetan kami nggak di cek satu-satu. Gimana kalo seandainya di cek? Bisa-bisa aku... Udahlah, yang namanya cowok harus dihadapi apapun itu

Hari kedua, Pun selesai.

“Ma, aku nggak bisa pulang dulu, aku ada tugas banyak.. Aku tidur di tempat Jack, bareng sama Angga.” Sempet itu kata yang terucap mengenang suara Mama, yang dua hari nggak ketemu. Aku emang anak Mama

“Ingat pesen, Mama Ya. Makan teratur, jangan lupa tidur, jangan lupa mandi!”

Aku mengiyakan pesan Mama, aku sadar pesan dan kata-kata orang tua adalah suatu mantra tersendiri yang manjur.

Aku kembali ke kos Jack, kali ini Bu Jack udah pulang ke Boyolali.

“Jack, sampein maaf ke Ibumu, Ya.” Pintaku

“Enggak apa-apa, Yan. Iya.”

Hari yang sangat monoton untuk kedua kalinya, tugas berat yang menanti kami. Tak perlu lah aku berpanjang lebar dengan tugasnya, aku sendiri sudah muak mengingatnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Sebelum tidur Jack ngomong ke aku, “Kamu nggak mandi?”

“Nggak, ah. Aku udah nggak kuat, bahkan kalo kamu ngasih film bokep aku juga udah gak kuat!”

“Wah kamu ini, istighfar!”

“Aku canda doang, kamu banyak omong, sih!” Emang dunia bokep bukan duniaku, walaupun temen SMA ku banyak yang suka. No way!

Mungkin, Jack emang bener. Aku emang jorok banget. Idiot, tepatnya kalo bahasa film. Dan kami lalu bermimpi ria untuk menuju hari ketiga fakultair, pagi hari terakhir...

“Kamu nggak mandi lagi, Ya? Nggak ganti daleman?” Kata Jack

“Udah, nih parfum masih kuat, Kok!” Kataku ketawa, malu juga sebenernya aku sama si Jack. Bayangin coba? Nggak mandi, nggak ganti hanya modal parfum selama tiga hari penuh! Lha gimana lagi? Mau pinjem punya Jack, ntar malah kekecilan. Kan, beda ukuran! Jangan mikir jorok.

Dari tatapan mukanya, Si Jack sedikit menahan sesuatu mungkin agak gimana gitu. Tapi akhirnya, dia malah ngakak-ngakak bareng Angga, “Emang temenmu ini, Kan gila!” Kata Si Angga

“Ayo, lah berangkat ke kampus.. Nggak ganti daleman juga nggak apa-apa lah, yang penting, Kan HEPI-HEPI!” Aku ngakak

*Pesan moral : Batas pakai daleman yang sama adalah dalam tempo 3 hari

Ari adalah Komting

Yang penting HEPI-HEPI

Rabu, 11 Januari 2012

Seri fakultair: Gara-gara fakultair



Sebelum aku lanjutin ceritanya, aku mau perkenalkan tokoh-tokoh yang akan main di filmnya.

Joko, atau lebih sering dipanggil Jack. Cowok terganteng se-angkatan yang punya senyuman menggoda. Banyak cewek yang klepek-klepek sama senyumnya.

Bu Jack. Ibunya joko. Wanita berhati emas yang aku kenal setelah Mamaku. Sangat baik dan perhatian.

Angga, cowok purwodadi yang bertekad jadi dokter petualang. Orangnya agak aneh, karena sering senyum sendiri

Mbak Lintang, Kakak kelasku yang paling bagus aktingnya waktu marah. Dia pinter bahasa Inggris.

Ari. Komting baru di angkatanku,. Orangnya bijak, tegas dan santun. Tokoh pemimpin sejati.

Fakultair emang bikin frustasi buat angkatanku, terutama komting baru, Ari, yang cerita pemilihannya udah aku share kemarin. Nah, setelah dia kepilih jadi komting..

“Dek, karena kalian melanggar tata-tertib, kami beri sanksi!” Kata komdis (komdis itu komisi disiplin), katanya komdis itu..

“Komisi disiplin itu ada buat ngejaga kedisiplinan, bukan mencari kesalahan, Ya dek!” Katanya salah satu Mbak komdis. Padahal waktu itu kami Cuma dateng telat. Kalo di SMA ku aja dateng telat masih ada toleransi, malah kalo telat Guru-gurunya pada senyum ke aku. Coba ini? Komdisnya malah lomba galak-galak. Sebenernya yang salah itu aku, SMA-ku, apa mbak komdis?

“Tugas untuk kalian adalah membuat buku tanda tangan teman kalian, minimal 150 tanda tangan plus nama plus alamat plus plus plus... bla bla dan juga buat artikel, denah esay, dll.” Kata Mbak nya lagi, namannya Mbak Lintang, Cewek yang wajahnya “manis”! (Tenang Mbak, jaga-jaga kalo mbak Lintang baca)

Gila apa? 150 tanda tangan? Plus artikel esay & denah? Siapa yang mau ngerjain, enak aja! Waktu SMA aja kalo ada tugas pasti aku nggak ngerjain, paling banter juga aku ngumpulin telat.

Sebelum saya lanjutin tulisannya, saya mau ngomong, kalo saya buat tulisan ini sebagai tanda kami, osteon, (anak osteon setuju, Kan? Kalo satu salah, Kan salah semua, hehe) kalo kami bukan karena kecewa dengan fakultair, tapi kami sangat berterimakasih dengan fakultair karena memberi kenangan tersendiri. Mungkin yang ditulis di sini Cuma pengalamanku aja, tapi aku yakin temen angkatan lain pasti juga punya pengalaman yang lebih seru.

Setelah mas & mbak komdis ngasih tugas ke kami, dengan bhasa tubuhnya yang sok “macho”, terutama Masnya Adit (karena wajahnya mirip adit) dan tatapan kayak mau ngajak berantem akhirnya ninggalin ruangan.

"Akhinya, pergi semua kalian. Sampe nahan kecing dari pagi aku!"

Dan kembali MC ke depan untuk ngawal acara selanjutnya.

“Gimana, Dek? Deg-deg ser? Jangan tegang, Ya! Tugasnya dikerjain, biar enggak kena marah lagi!” Ini wejangan MC, yang juga nutup acara fakultair hari pertama.

Setelah kami semua keluar ruangan, si Komting baru minta agar kami semua berkumpul di depan gedung kampus.

“Gila apa? Tugasnya banyak segini? Pulang jam berapa aku?” Aku kan anak Mama, kuliah aja masih dianter!

Bukan Riyan namanya kalo enggak punya ide!

Dengan jalan tegas dan masang wajah berwibawa, aku ngedatangin Ari yang lagi diskusi sama temen-temen tentang strategi buat ngerjain tugas secara massal.

“Ari, aku mau ngomong sama kamu.” Aku tarik pundaknya, aku tatap matanya kayak kalo aku lagi natap cewek biar klepek-klepek. Ini jurus cinta nomor 2, “tatapan maut”

“Apa? Ini kami lagi diskusi.” Jawabnya serius. Yang ini dia emang serius beneran, enggak akting kayak aku yang sok bijak apalah.

“Aku hanya ingin kasih ide.” Aku sambil sok memandang ke arah lain & masih pake wajah bijak

“Ide apa? Ayo sini bareng.” dia narik aku ke gerombolannya

“Gini, Ri. Aku itu bukannya gila atau apa, aku Cuma ingin nyaranin ke kamu. Kamu, Kan komting, kamu tahu sendiri, Kan temen kita banyak. Gimana kalo tugasnya nggak usah dikerjain? Kita semua enggak usah kerja, kita besok hadapi bersama, kalo mati, kita mati bareng!”

Eeeeeh, aku udah capek-capek serius kasih saran & ngluarin jurus tatapan mata, malah si Ari berlalu begitu saja ninggalin aku, “Enggak digubris sama sekali!” Dalem hati aku ngomong, "Awas, nanti kita lihat aja siapa yang cocok pake nama ariano apa arfinanto!" Hehe

Walaupun Ari nggak respek, tapi yang namanya Riyan itu enggak gampang nyerah. Sambil berjalannya waktu, aku pengaruhi sebagian temen buat enggak ngerjain tugas.

“Coba dipikir, Ya? Kita milih ngerjain sampe begadang atau tidur nyaman di kasur empuk? Mending kita semua enggak usah ngerjain!” Aku niru gayanya setan-setan bertanduk merah yang bisikin dari telinga kiri bawa pentungan.

“Ya, aku setuju, emang harusnya gitu!” Ini enggak tau siapa, yang pasti ada. Dia serius jawabnya

“Lalu? Ayo kita mogok ngerjain.”

“Tapi kamu aja. Aku mau ngerjain!” Sial batinku, emang semua pada enggak kompak. Malah dia orang ngakak enggak jelas

Mungkin emang saatnya aku berubah, dari jaman SMA yang penuh hura-hura, berotak melenceng dan seenaknya aja. Semua sudah sampai saat ini, aku katakan, “cukup.”

Dengan motivasi yang tinggi, aku & Angga lalu pergi ke kos Jack.

“Ini temenmu, dek?” Kata Seorang Ibu di kos Jack.

“Iya, Bu. Mereka mau ngerjain tugas bareng, ada tugas dari kampus.” Jawab Jack

“Oh, silahkan, Dek.”

Setelah cerita-cerita sama Jack, akhirnya aku tahu kalo perempuan ini itu Ibu nya dia. Ibunya enggak sendirian, dia didampingi sama seorang wanita lagi, tapi aku sampai saat ini nggak tahu siapa wanita yang satunya.

Lalu kami ngerjain tugas-tugas fakultair yang sangat banyak, kerja sampe malem. Bahkan kami harus kelayapan untuk ngerjain tugas tanda tangan bersama di lapangan parkir depan gedung. Sampe tengah malem! Aku jadi inget sama Pak Guru SD yang dulu sering cerita tentang kerja rodi, enggak nyangka aja sekarang aku jadi tokohnya. Padahal dulu kalo rodi aku sering mbayangin Pak Guru yang bawa cangkul kerja rodi! Kualat

Nah, setelah itu kami balik lagi ke kos, buat ngerjain tugas sisa. Si Jack, waktu itu udah mau teler.

“Yan, aku tidur dulu, Ya. Nanti setengah jam lagi bangunin!” Sambil ngusep matanya yang udah merah, cocok kalomain iklan obat mata, hehe

“Oke, Jack.” Dan dia akhirnya tidur dengan masih tersenyum, sok manis deh! Pantesan yang naksir banyak

Aku sama Angga masih sibuk ngerjain tugas, dan Bu Jack masih sibuk ngobrol di luar kamar. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi dari caranya ngomong mereka rasanya udah ngantuk juga.

“Dek, udah jam 1 malem. Kalian tidur aja.” Kata Bu Jack.

“Iya, Ibu.” Jawabku, Angga

“Ini tidur bareng Joko di sini.” Bu Jack nyiapin kasur buat kami, di dalem kamar.

Lho? Kok kami malah disuruh tidur di dalem kamar? Terus Ibunya Joko tidur dimana?

“Ngga, tanya sana ke Bu Jack, kalo kita tidur di sini, Ibunya dimana?” Bisik aku ke Angga

“Aku enggak enak.”

Lalu Bu Jack keluar kamar, dan ternyata tanpa sepengetahuan kami Si Ibu udah nyiapin tempat tidur di luar kamarnya Jack, Cuma beralaskan tiker plus selimut dobel!

What? Apa-apaan ini? Aku emang IQ nya enggak tinggi, Ya jadi aku masih bingung. Si Ibu malah senyum ke aku sambil ngangkat tubuhku untuk segera pindah ke kasur.

“Ayo, dek lekas tidur.” Paksanya, mirip Mamaku waktu nyuruh aku bobo.

“Iya, Bu.” Aku & Angga akhirnya nurut, kami tidur di sebelah Jack. Bertiga di kasur.

Dengan wajah penuh kasih sayang, Si Ibu nyelimutin kami. Sekali lagi, mirip Mamaku! Lalu dengan hangat Si Ibu nyuruh kami, “Tugasnya besok saja, kalian tidur saja.” Sambil senyum, melegakan pikiran dan ngerefresh.

Bu Jack lalu keluar kamar lagi, dan tidur di kasur instan.

“Ngga, ternyata itu kasur di luar buat Bu Jack!” Aku bisik-bisik ke Angga.

“Iya, Yan. Kamu ngomong sana ke Bu Jack, kalo kita yang diluar aja!” Angga nyuruh aku

“Enak aja, aku malu. Enggak enak sama dia, mirip Mamaku!” Kataku.

“Ssst, Dek, tidur aja!” Bu Jack ngintip dari balik pintu. Pintunya emang sengaja Bu Jack buka sejengkal.

Di luar kami denger suara ribut Bu Jack, ternyata.. "Szzt, szzt." Sedang ada pembantaian nyamuk Genuk! Bu Jack vs Koloni nyamuk Gnuek.

"Plok, plok!" Suara teplokan

"Ngga, itu Ibunya Jack lagi tepuk tangan apa?" Aku nanya Angga yang hampir juga teler.

"Itu lagi basmi nyamuk! Oon."

"Kita kurang ajar berarti?"

"Nah, itu ngerti, udah tidur." Kata Angga malingin wajahnya ke arah sebaliknya.

So what gitu? Nggak berapa lama, Angga sempet ngelirik ke arah aku,

“Kamu gila, YA? Malah main Hape!” Dia mergokin aku yang lagi ngakak-ngakak baca sms.

"Ini ada sms, Ngga!"

"Edaaan!"

Sepeti wajah tanpa dosa aku emang asik main hape, sms an bentar sama temen SMA. Yah sesekali aku bangun sebentar sekedar nge bales sms. Eeh, malah si Angga ikutan main hape. Dasar gila!

"Heh, tadi marah-marah aku main hape, sekarang coba?" Aku mergokin Angga ikutan main hape

Eeeh, dia malah ngakak-ngakak. Mikirin tamu yang kurang ajar. Dan karena aku masih normal aku ikutin Angga. Kami berdua emang udah gak waras. Tertawa di atas penderitaan orang.

“Kami emang, GAK PUNYA HATI.”

Perbandingannya, kami bertiga tidur di atas kasur empuk dengan AC pendingin yang sejuk plus selimut. Dan di luar Si Ibu tanpa kasur empuk dan hanya beratapkan bintang, apalagi nyamuk Genuk lagi patroli jam malem!

Kami lalu diam berdua, dengan ditemani senyum Jack yang masih menggoda. Dan karena emang sudah ngantuk, aku akhirnya “Tidur!”

“Maafkan kami Ibu.”

Selasa, 10 Januari 2012

Seri Fakultair; Pemilihan Komting


"Ting komtiing!" Sapa Duta, seorang temanku di FK. Orangnya putih agak gendut & idola gadis!

"Kenapa? Namaku bukan komting!"

"Tapi kamu tetep komting ku..."

Emang namaku di lingkungan FK enggak terkenal dengan sapaan 'Riyan', tapi lebih familier dengan nama 'komting' atau bahkan banyak yang manggil aku "gagal komting". Padahal Komting angkatan 2011, bukan aku, tapi Bang Arie Arfinanto, cowok bijak kelahiran Riau. Nah, sempet gara-gara aku sering dipanggilin pake nama komting, kakak angkatan ngira aku komtingnya!!!

Emang sulit, Ya kalo jadi cowok ganteng? Apa-apa dicari, bahkan diteriakin kayak maling, sampe kalo aku ngapa-ngaain pasti pada histeris, "gagal komtiiing!!!"

Nama yang udah dibuat sama orang tuaku bagus-bagus ini, dengan ikhtiar & pencarian nama yang sangat indah "Muhammad Riyan Arrizal", keren gak tuh? Bisa diganti dengan nama yang aku sendiri bingung ini temen-temen pada muji apa ngeledek, "gagal komting!" Nama ini berasal dari suatu filosofi kejadian, yang akan kami kenang sampai kami koas, lulus jadi dokter, bahkan sampai kami mati!

Kejadian ini terjadi ketika kami mengalami fase fakultair di FK UNISSULA. Fakultair itu semacem ospeknya dari fakultas. Walaupun bisa dikatain ospek, tapi kata kakak angkatan, "ospek enggak ada perpeloncoan!" Katanya

Nah, kembali ke jalur komting. Kami pertama-tama disuruh ngedengerin pidato singkat presiden kami waktu itu, Mas Irkham.

"Seminggu lalu kalian sudah mendapatkan pekan taaruf dari kampus, sekarang mulai hari ini sampai tiga hari ke depan, kalian akan menjalani fakultair. Kegiatan ini berguna bla bla bla.... Intinya, jangan samakan fakultair dengan pekan taaruf! Semua harus disiplin!"

Kalo denger pidato Mas Irkham ini aku jadi inget wejangan Mbak Diva, kakak angkatanku dari SMA yang masuk FK, "Pokoknya ikutin aja peraturannya, jangan dilanggar, enggak berat kalau dipatuhi!"

What? Dipatuhin? Dari dulu SMA sampe sekarang kata-kata patuh aturan aja enggak pernah aku ngomonginnya, sekarang harus tunduk? So what gitu.. Motto hidupku, Kan "Yang penting Hepi-hepi!"

Nah setelah denger pidatonya Mas Irkham, pembawa acaranya langsung ngarahin kami tentang seluk beluk fakultair, dan akhirnya...

"Kalian harus memilih Komting angkatan kalian. Komting angkatan bertanggung jawab pada semua anak selama 5 tahun sampai kalian semua lulus jadi dokter. Jadi pilih komting yang berkompeten dan tanggung jawab."

"Silahkan yang ingin menjadi komting maju ke depan, 5 orang!" Katanya.

Pertama-tama, langsung ada seorang yang dengan pede nya ngacungun jari telunjuk. Berdiri dan jalan ke depan. Dia Yoga, anak Tegal yang nggak bisa ngomong pake logat tegal.

Dalam hati, aku jadi inget sama wajah-wajah guruku, eh dalam pikiran maksudku. Wajahnya seakan akan menggurui pikiranku, seakan mendorong setiap jengkal kortisol hormon dalam diriku.

"Gimana kalo aku maju, Ya?" Pikirku.

Lalu orang kedua pun maju mendaftar jadi calon komting, dia adalah Alfo. Aliumni SMA 3 yang menurutku pikirannya kritis kayak UGD deh, hehe. Maksudku pinter ini anak, Kan aku udah kenal dia sejak awal.

"Ayo siapa lagi yang ingin maju! Jadi komting untuk angkatan kalian."

Setelah itu ada suara keributan dari belakang. "Ini mbak, calon komting." Dengan sedikit dorongan, Arie Arfinanto, atau kami biasa panggil Ari, maju.

"Kamu enggak terpaksa, Kan dek?" Tanya MC.

"Enggak, Mbak." Tegasnya

Lalu dengan seiring waktu Si Uki, calon keempat maju dengan gagahnya, mungkin mirip guru SMA ku yang sering jaga pintu waktu telat, hehe.

"Ayo siapa lagi? Satu lagi calon komting. Bagi yang merasa dia adalah manusia terbaik silahkan maju kedepan!"

Kata mamaku, aku adalah anak terbaiknya. Tapi kalo dibelakangku pasti ngomong kayak gitu ke adik & kakakku. Tapi ini kan gak ada mamaku, so aku anak siapa dong? Ya udah lah, mungkin aku emang ditakdirin jadi komting.

"Saya!" Aku angkat tangan kanan, lalu maju ke depan.

Aku sendiri enggak percaya sama pernyataan ini, kalau kata temen-temenku "aku maju komting kayak orang abis nagih utang!" Dengan santai tanpa dosa dan dengan kokard besar bertuliskan,

motto hidup; YANG PENTING HEPI-HEPI

Kami berlima berjejer, saling memandang. Sebelumnya yang aku kenal Uki, Alfo & Yoga. Nah si Ari? Siapa dia?

"Dek, siapkan visi misi kalian dalam pidato singkat, pengaruhi mereka untuk yakin pada kepemimpinann kalian!"

Dan kesempatan untuk pidato pertama kali jatuh pada Yoga. Aku sendiri enggak terlalu ndengerin wakti dia ngomong, karena aku dalam hati lagi kebingungan setengah hidup aku harus ngomong apaan? Dari dulu SMA aku kalo ngomong visi misi mesti di ledekin temenku, ada yang bilang visi konyol, gak penting, aneh, dll.

Lalu tiba giliran Alfo. Ngelus dada waktu itu aku, "Untung bukan aku, semoga terakhir!"

Si Alfo cuma satu kalimat yang aku denger, "Saya ingin aktif terlibat, dulu ketika SMA hanya melihat, dan saya rasa kurang baik." Keren nih Alfo, dari golongan anak muda yang mau berontak kayak aku, hehe

Lalu Uki, waktu itu dia ngomong secara tegas, "pengalaman organisasi, ikut kongres UNESCO."

Setelah denger kalimat Uki tadi, aku jadi punya ide. Mungkin sedikit gila. Apalagi mbak MC nakut-nakutin, "Jadi komting itu susah lho dek, kalian harus rela!" sambil dia senyum. Ada udang di balik senyummu!"

Setelah Uki berbasa-basi dengan pidatonya, sempet aku tanya ke Alfo namanya yang baru aja pidato tadi, karena aku lupa! Hehe. "Eh, namanya siapa sebelahmu?"

"Uki. Kenapa?"

"Ntar kamu tahu ndiri." Kataku sambil senyum-senyum kayak piccolo

Lalu tibalah giliranku ngomong pidato. Aku ambil mic, lalu diam menatap seluruh calon yang akan ku urus nanti. "Ternyata banyak juga, Ya?" Dalam hati.

Kata mamaku, aku belom bisa ngatur diriku sendiri, aku orangnya ceroboh, bayangin coba orang segini banyak aku atur?

"Assalamualaikum." Kataku

"Saya dari dulu SMA sampe sekarang enggak mudeng apa itu visi misi, yang pasti tujuan saya berdiri di sini cuma memastikan kita lulus bareng semua!"

"Dahulu kala, ketika saya SMA. Saya pernah ikut OSIS, Tapi saya di sini mau jujur, kalau saya tidak suka OSIS, apalagi BEM! Bahkan waktu SMA saya bikin organisasi lawannya OSIS, bahkan Guru-guru lebih respon ke kami." (sebenernya aku mau nambahin, karena organisasi kami dilarang! wkwkwk, sampai saat tulisan ini ditulis, belum ada temenku yang tahu!)

Ehhh, malah semua pada teriak sorak gembira, padahal waktu itu aku mau tampil sok sombong & tampil dengan gaya yang enggak sama sekali mencerminkan komting alias pemimpin! Wah jangan-jangan nanti pada milih aku! Apalagi anak-anak BEM kakak angkatanku juga ikut ngakak coba. Heran aku.

"Tunggu dulu... Saya belum kelar ngomong!"

"Ketika saya duduk, berdiri dan jalan ke tempat ini, saya yakin kalau saya bakal jadi komting, karena saya ngerasa saya manusia terbaik... Tapi semua itu pupus, ketika saya lihat teman saya, Uki! Menurut saya dia lebih berkompeten!"

"Jadi pilih Uki, pilih nomor tiga!" Kataku sambil megang pundaknya orang yang baru aja tadi aku tanyain namanya.

Eh malah temen-temen nambah ngakaknya, kalo diukur pake parameter hepatitis udah stadium 4 ini! Tinggal matin aja. Waktu itu aku malah ketakutan setengah mati, aku kira mereka semua bakal milih aku.

"Ingat, Ya pilih nomor 3 aja, jangan saya!" Salam ku pada akhir pidato.

Lalu abis semua pada tenang, sambil nahan tawa si MC mempersilahkan calon komting asli, Ari.

Waktu itu, Ari pidato dengan matang, mantap tanpa keraguan. Bahkan dia ngeluarin kapal yang menerjang badai plus para awak kapalnya coba! Coba waktu itu aku ngeluarin pesawat atau jet terbang ke bulan, pasti si Ari gak jadi koomting sekarang, hehe.

Setelah itu, kami para calon komting disuruh untuk tutup mata & hadep belakang. Para pemilih akan memilih kami dengan mata yang tertutup, ini biar adil.

“Yang milih Riyan acung tangan! Maaf, maksud saya yang nomor satu tadi.” Wah, dalam hati aku doa moga-moga aja di FK ini yang otaknya agak melenceng Cuma aku doang, jadi yang milih aku enggak ada!

Lalu mbaknya nglakuin yang sama ke calon komting lain. Dan setelah selesai, kami disuruh berbalik badan & buka mata.

“Dek, siapapun yang terpilih komting nanti kalian harus legowo, jangan nyesel, Ya! Kalian tetep keluarga.”

“Mbak, mbak, kalo aku enggak kepilih pasti udah legowo, tapi kalo kepilih? Bisa-bisa Dutha pulang bugil nanti.” Eh belum aku ceritain, Ya? Kalo si Duta bikin taruhan jika aku kepilih komting dia mau pulang bugil. Hehe.

Satu-persatu kertas kecil gulungan dibagi ke calon komting.

“Di buka bareng, Ya dek! Satu, dua , tiga!”

Ketika aku buka, jantungku deg-deg an kenceng kayak abis main bola.

“3”

“Alhamdulillah... Akhirnya aku enggak kepilih, tapi walaupun gak kepilih namaku masih bersihlah, aku dapet urutan ke-tiga!” Bisikku senang dalam hati.

Dengan wajah bangga kayak Hitler habis numpas musuhnya, atau kayak panglima china aku busungin dikit dada & senyum sok bijak.

“Dek, kamu berapa?” Si mbak nanya ke aku,

“Tiga!” Lantang dan tegas jawabanku.

Lalu si Mbak nanya ke Uki,

“76.” (Aku lupa berapa, intinya kisaran segitu)

“Hah? Kok peringkatnya tinggi banget si Uki? Kan Cuma ada lima?” Aku jadi bingung. Sambil bingung Si Ari ternyata “157.”

“Lho? Berarti.” Langsung aku nunduk, malu!

Ternyata arti angka tiga ini bukan peringkat, melainkan jumlah orang yang milih aku. Shocked! Masa dari 250 anak yang milih Cuma tiga? Dosa apa aku ini? Tapi untunglah, berarti anak angkatanku masih waras.

Dan akhirnya secara langsung, Ari didaulat sebagai komting kami, unggul jumlah suara mutlak.

“Selamat, Ya Ri.”


-continue-